hujan embun

Juni 28, 2007

Hujan turun hari ini, sejak subuh tadi hingga kira-kira pukul sepuluh pagi. Apakah musim hujan sudah tiba? Padahal sepertinya musim kemarau belum benar-benar tiba. Entah ke mana perginya bulan demi bulan kemarau kering itu, yang membuat semua permukaan di dalam dan luar rumah tertutup debu kering. Tetapi, hati kecilku sedikit berseru bahagia. Angin yang semilir, awan mendung yang membayangi bumi, dan hujan yang tidak terlalu deras itu. Semuanya seperti sekelompok pemusik orkestra alam yang menyanyikan senandung pengantar tidur. Atau mungkin senandung pembuat tidur? Kelopak mata terasa berat, dan kulit tubuh merasa nyaman di bawah tumpukan selimut. Burung-burung yang biasanya berkicau-kicau menyambut pagi, kini hanya seperti bisikan yang ditelan ketukan air hujan pada jendelaku.

Hujan tadi pagi seperti oase yang dikirimkan bagi orang-orang yang haus dan hilang. Beberapa hari kebelakangan ini, matahari seperti sedang membalaskan sebuah dendam kesumat… Tetapi hari ini, seperti sebuah pembebasan, seperti seorang narapidana terhukum mati yang diberikan kebebasan. Mungkin aku seperti terlalu mengada-ada, membesar-besarkan sesuatu yang biasa-biasa saja. Toh, hujan pagi hari itu sudah turun sejak zaman dahulu kala. Tetapi, memang itulah rasanya, seperti itulah perasaan hati yang dibuai dalam alunan pagi tadi.

Mungkin tak hanya saya saja yang terbuai dalam kedamaian yang diantarkan. Tidak ada suara bising dari dapur di mana biasanya ibu sudah memasak sejak pagi, tidak ada teriakan-teriakan parau adikku dari dalam kamar mandi, tidak ada deheman-deheman alergi pagi hari dari ayahku. Seisi rumah tampaknya hanya diam tertegun dan tersenyum kecil.

Ah, sayang sekali hari ini bukan hari untuk duduk santai dan merehatkan badan. Sayang sekali, karena kesibukan di meja kantor sudah menunggu, menunggu dengan sabar; menungguku keluar dari mimpi nyata ini dan masuk ke dalam dunia yang sebenarnya.

Mungkin esok akan hujan lagi. Mungkin esok embun pun akan turun beramai-ramai, bersama dengan angin semilir dan awan abu-abu putih.

Apa kabarnya dirimu?

Seseorang yang sangat kusayangi pernah berkata, “kamu itu kalau sudah memiliki sesuatu, pasti tendensinya memonopoli, deh. Iri pada orang yang juga memilikinya, atau hendak memilikinya.” Hal ini bukanlah tabiat yang baik, bahkan sesuatu yang seharusnya dilatih untuk dihilangkan.

Bukan hanya benda, tetapi juga hubungan dengan orang di sekeliling. Sekali saya memiliki, saya enggan menyerahkannya pada siapa pun juga. Posesif yang teramat sangat, mungkin begitu julukan orang awam.

Sepertinya hal ini adalah suatu hal yang irasional, kegilaan yang bercokol di kepala dan di dalam hati yang mendarah daging, mengurat-otot. Tabiat seperti ini adalah seperti borok yang tak kunjung hilang, yang merusak semua apa yang telah dipunyai antara saya dengan hal-hal yang saya anggap penting. Tak jarang orang menjadi gundah, gelisah, dan akhirnya merasa terkekang, dan kemudian membenci saya. Tapi saya tidak tahu bagaimana cara melepaskan diri dari hal buruk ini.

“Ini latihan yang harus kamu selesaikan,” katanya, dia yang selalu sabar, dia yang selalu tenang, dia yang selalu mendukung. Dia yang selalu baik, walaupun sebenarnya dia punya seribu satu masalah yang lebih penting daripada masalahku yang kekanak-kanakan. Dia yang kini sudah bukan milik saya lagi, tetapi sudah bebas dan berbahagia di atas sana. Dengan para malaikat berambut halus dan bertuturkata manis, dengan kebahagiaan yang cerah dan bersinar-sinar setiap saat. Sudah lama ia pergi, sudah lama kami tidak bersembang lewat bisik dan kata-kata, tapi saya masih saja tetap iri. Iri pada hal-hal yang mungkin hanya ada dalam pikiran saya.

Semalam saya bermimpi bertemu dengannya, dan ia menanyakan hal ini. Apakah kamu sudah berhasil? tanyanya, dengan senyum yang penuh rasa tahu.

Kamu tahu aku masih berkutat di sini. Mungkin aku sudah maju beberapa langkah, tapi aku takut aku pun mundur beberapa langkah lebih banyak, tanpa aku ketahui.

Dan sekarang, aku masih tetap posesif, masih tetap iri hati, masih tetap dengki. Hitam legam di hatiku entah kapan hilangnya.

Seseorang pernah berkata kepada saya, “kalau menuliskan pengalaman hidup, tulislah seperti sedang menulis surat cinta.” Tapi surat cinta seperti apa saja saya pun tidak pernah tau. Mungkin jaman sekarang, dapat SMS saja sudah bagus, ya?

Tapi, saya teringat akan tumpukan amplop putih yang sudah menguning, yang menyimpan sejuta cerita pada kertas-kertas yang diselipkan ke dalamnya. Waktu itu, amplop-amplop itu dikeluarkan dari tempat persembunyiannya oleh tangan-tangan maling yang mengusiknya. Dari debu yang masih tersisa pada permukaan amplop, saya kira kertas-kertas itu sudah lama berdiam dalam kegelapan. Tidak terlupakan sepenuhnya, tetapi mungkin terlewatkan dalam kesibukan sehari-hari. Saya tidak sengaja membaca baris demi baris rahasia, terekam kekal dalam torehan pena. Dari ayahku untuk ibuku, setumpuk sejarah dari waktu yang tidak aku kenal.

Ibuku tersenyum dan tersipu malu-malu. “Aneh ya? Padahal dulu kan tetanggaan. Tapi masih juga surat-suratan.”

Otak manusia yang lemah, suatu saat akan melupakan percakapan yang dihantarkan lewat gelombang listrik dan gagang telepon; suatu saat akan melupakan bisikan-bisikan yang dipisahkan oleh pagar kawat dan udara yang menari-nari di depan wajah. Tetapi kertas-kertas kuning itu, sudah rapuh dan berdebu, akan menyimpankannya untuk mereka; menyimpankan kata-kata sederhana itu untuk mereka.

Lalu, bagaimana cara menulis seperti yang dikatakan kawan saya itu, ya? Entahlah. Lalu, untuk siapakah saya menulis seperti ini? Entahlah. Hanya bahwa saya menulis saja, dengan harapan agar dapat mengenang kembali.

di pinggir sungai itu

Mei 13, 2007

Pagi itu, kami memandang ke arah langit dan berharap matahari tidak melotot terik, dan berharap kami dimaafkan oleh awan hitam pembawa hujan. Dengan perut kenyang terisi bakso dan tenggorokan dibasahi teh botol, kami berenam berangkat ke Sanggar Ciliwung. Ternyata memang tidak salah kami makan dulu (setelah paginya hampir pingsan karena belum sarapan), karena ternyata kami kehilangan arah!

Frater bertanya pada seorang lelaki tua, dengan kulit coklat legam dan gigi depan yang menyodok keluar. “Carilah sungai, lalu ikuti sungai itu. Pasti nanti ketemu. Oh iya, saya orang RW sini,” ia berkata, sambil menunjuk ke arah sebuah gang sempit yang tertutup warung rokok. Ia mendehem dan menyarankan kami untuk berjalan menyusuri jalan raya yang dipenuhi angkot. “Ikuti saja jalan ini, carilah jembatan yang melewati sungai.” Seperti sedang berbicara dengan sphinx, bisik temanku. Tuanya juga sudah cocok.

Setelah bertukar salam dan mengucapkan terima kasih, kami pun bergerak menyusuri jalan, sambil menyeka keringat yang mulai bercucuran. Dari kejauhan, akhirnya terlihat juga jembatan itu, yang sebenarnya luas tapi menjadi sempit karena pasukan mikrolet yang mangkal di sana. Ada lapak-lapak penjual sapu lidi di kiri kanan jalan, dan sayup-sayup lagu dangdut mendikte goyangan sekelompok anak kecil yang sedang bermain.

Aspal berangsur-angsur menyerah pada jalan berbatu, rumah-rumah petak kecil dan berdinding tinggi menghimpit dari kiri dan kanan. Aroma ayam goreng dari sebuah warung bertanding dengan bau amis yang mengambang di udara, tidak pernah mengijinkan kami untuk lupa pada keberadaan sungai di belakang rumah itu.

Sanggar Ciliwung adalah sebuah rumah yang sederhana dan rendah diri, kecil dan bahagia selalu. Alunan lagu pop menyambut kami, lewat petikan gitar dan suara merdu. Di beranda belakang mereka berkumpul, bernyanyi dan bercerita. Kami disambut dengan senyuman lebar dan diantarkan ke lantai dua untuk bertemu dengan penghuni rumah. Kami duduk di balkon kecil, yang terbuat dari batu dan kayu, membiarkan angin semilir menghibur kami yang letih lesu.

Di antara kebahagiaan yang sederhana ini, sungguh tempat ini adalah tempat yang mendamaikan. Langit yang biru tanpa setitik awan pun, pohon-pohon rindang di seberang sungai, gemericik air, dan nyanyian serta tawa bahagia. Bila saya memejamkan mata, saya dapat membayangkan betapa indahnya tempat ini.

Tetapi, mata bercerita lain, menafikan apa yang didengar telinga dan diharapkan hati. Sungai yang coklat pekat, sampah yang mengapung di permukaan air, tak henti-hentinya mengapung bersama air yang mengalir. Di sini, dua bilik bambu untuk buang air, di situ sekelompok wanita mencuci pakaian dan di sana seorang ibu sedang memandikan anaknya. Semua bercampur aduk di satu aliran sungai yang sama. Seorang laki-laki tua mendayung sampannya, sebentar-sebentar berhenti untuk melepaskan kantung plastik yang menyangkut pada dayungnya.

“Ini masih mending lho,” tiba-tiba ada seorang bapak muncul di sebelah kami, “anginnya nggak niup kenceng ke arah sini. Kalo nggak, wanginya pasti semerbak banget deh. Ini juga kalinya lagi lumayan bersih.” Tapi tetap saja, bau yang khas itu menggelayut di udara sekitar kami, mengukung indera sehingga yang kami rasakan hanyalah keputusasaan. Bapak itu masuk lagi ke dalam rumah, meninggalkan kami dengan pikiran kami.

Dari dapur, sang ibu pemilik rumah sedang menyeduh kopi, dan untuk sementara kami bisa bernafas lega.